Menjadi Pemimpin

Menjadi Pemimpin itu Susah-susah gampang dan gampang-gampang susah. Kenapa? Gampangnya itu, kalau ada pekerjaan tinggal main perintah, mengatur, dan nyuruh. Tapi, semuanya nggak semudah itu juga. Perintah, ngatur, dan nyuruh itu juga harus ada ‘seni’-nya. Dan seninya itu yang bikin jadi pemimpin adalah sosok yang susah.

Coba deh, kita liat sejenak sosok pemimpin bangsa kita, Pak SBY. Dia karismatik (jujur nih), tapi beliau pun juga nggak sesempurna itu (meskipun aku nggak tau letak ketidaksempurnaannya itu di mana, cos aku jarang mengikuti aksi kepemimpinan dia). Atau yang kalo nurut aku, cukup dekat denganku tiap hari, so aku bisa cukup mengenal dia, adalah ketua hima-ku (himpunan mahasiswa). Dia sosok pemimpin yang menurutkan baik, sangat baik, tapi sayang orang lain nggak menganggap dia baik, orang lain berpikir dia kurang maksimal n kurang tegas.

Tapi menurutku dia sudah melaksanakan tugas kepemimpinannya dengan baik, dan telah mengesampingkan buanyak banget urusan pribadinya. Aku lihat sendiri dari kali pertama dia dipilih menjadi ketua hima. Pada awalnya dia tak mau, tapi pada detik terakhir pendaftaran akhirnya dia mau mencalonkan diri. Hasilnya dia sendiri diterima sebagai ketua. Dia mengorbankan kegiatan kemahasiswaan lain yang aku tahu dengan persis dia sukai. Dia mengorbankan banyak waktu dengna ide-ide cemerlangnya, keberanian dia untuk mencoba dan berusaha, serta keinginannya untuk memahami stafnya. Selama ini dia telah berpotret sebagai sosok pemimpin yang baik. Komintmen yang jelas, tujuan yang jelas, performance yang sudah menunjukkan sosok pemimpin, aksi-aksi kepemimpinan, dan kapasitas untuk menjadi pemimpin yang hebat.

Dia calon orang hebat. Dia bahkan sudah jadi orang yang hebat.

Tapi apa kelemahannya? Kenapa para stafnya masih tak menghargai dia. Kenapa para stafnya tak juga mengikuti aksinya?

Kekurangtegasan dia. Dan keinginannya untuk melakukan semuanya seorang diri, jika dia bisa melakukannya seorang diri. Dan sosoknya yang tidak bisa membaca perasaan orang lain. Dia—kelemahan sebagai laki-laki juga—tidak terlalu peka terhadap perasaan orang lain.

aku tahu betapa sulitnya memimpin orang lain. Aku sendiri saja memimpin (ceileh bahasanya) 7 orang staf dengan semua keterbatasan dan kelebihannya. Dan itu sama sekali tidak mudah. Aku harus memahami mereka tapi di sisi lain ingin mengajarkan mereka bagaiaman bekerja dan memunculkan potensi. Dan aku belum tau bagaimana melakukannya. Belum ada kesamaan visi di diri kami, so, kami masih sangat sangat tidak solid. Dan itu membuatku kadang harus bekerja sendiri. Sulit. Benar-benar sulit. Tapi tanggung jawab menjadi kata kunci utama ketika kelelahan dan kemalasan membayangi.

So, setelah seharian kemarin di up grade oleh Pak Pidi Winata (presiden bem uny 2008), akhirnya aku mendapat sedikit pencerahan. Meskipun sudah sangat terlambat sekali. Tapi, aku tahu satu hal, menjadi pemimpin itu tidak mudah. Harus ada jiwa pemimpin terlebih dahulu. Tapi sayangnya, aku nggak punya jiwa itu. Huffft….ada ide??? Aku malah bingung!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Inspiration for the Lovers

anda adalah katalisator terhebat untuk mengubah saya menjadi lebih baik ^^
*arifatih*

aku memang manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku hanya satu cinta untukmu luar biasa
*yovie & nuno*

Inspirasi Hidup

with great power comes great responsibilities

*spiderman*