a cinderella story

melihat film a cinderella story yang dibintangi oleh Hillary Duff (raise ur voice, lizzie mcGuire) bikin gw mikir dan merenung selama beberapa saat. apa bener a happy ending kayak cinderella story itu bakal ada?

sebelum dibintangi dan dikemas menjadi gaya abad 20an, cinderella dikenal sebagai dongeng anak-anak. kisah cinta antara dirinya yang seorang anak tiri dan diperlakukan semena-mena oleh ibu tirinya menginspirasi banyak kisah lain (ingat dengan film Ella Enchanted atau Ever After ‘Drew Barrymore’). namun, kisah sedihnya berubah menjadi kegembiraan ketika dirinya ditolong oleh seorang peri cantik untuk datang ke pesta pangeran. di sanalah cinderella bertemu pangeran–yang langsung membuat pangeran jatuh cinta pada pandangan (dan dansaan) pertama. tapi malang, lonceng jam 12 malam berbunyi, dan Cinder terpaksa harus pulang, meninggalkan sebuah misteri sepatu kaca di tangga kerajaan. finally, sang pangeran berhasil mencari tahu siapa cinder sebenarnya, dan mereka hidup bahagia selamanya.

a very happy ending love story.

nah, bener ada nggak sih kisah kayak gitu di real world?

aku kadang berpikir kalau kisah kayak gitu nggak akan pernah terjadi di dalam kehidupan nyata. sama sekali nggak akan. seorang cowok cakep, tinggi, tampan, yang membawa mobil putih, menjemput anak desa buruk rupa untuk menjalani kehidupan yang happily ever after.

that’s a big bullshit.

itu cuma sinetron, telenovela, love story, drama, dan apapun lah.

kenyataan yang ada adalah si itik buruk rupa akan tetap mendapatkan itik buruk rupa lainnya, sementara pangeran akan mendapatkan putri. menyeberangi kasta berarti mampus atau bunuh diri. dan itu nggak akan terjadi. nggak akan di kehidupanku setidaknya.

buktinya? heemh…ada ribuan kisah yang gw imajinasikan dalam otakku, yang mungkin jika ditulis akan mengalahkan isi perpustakaan UIN SUKA. tapi kisah itu hanya bullshit ajah. tak ada pangeran nyata di sini. tak ada yang menjadi realita. itu hanya kisah dalam mimpi saja, seperti cinder, putri salju, rapunzel, atau siapapun lah.

kata fe, pangeran itu akan datang suatu saat. dan yang harus kita lakukan adalah cukup bersabar saja sampai ia datang. benarkah? benarkah? benarkah? entahlah…

Kisah Tama

ada dua tama dalam versi ini, tama yang adalah soulmate sayu, dan tama soulmate ku. dia bilang kayak gitu. tama said like that. but thats a big bullshit. keinginan untuk bersamanya seumur hidup, mengabdikan seluruh jiwa raga untuknya, hanya ada dalam khayalanku saja. sebentar lagi dia pergi dari sini, meninggalkan serangkaian memori indah yang selamanya akan membekas. tama tak akan tergantikan. dia satu-satunya. tapi, kenyataan harus dihadapi.

aku hanya merasa, bahwa tama adalah pangeran yang ku nantikan selama 21 tahun ini…tapi kenyataan berbicara lain. ada putri lain yang sudah ia pilih. dan gw? ga lebih dari ‘kotoran kecil’ dalam kisah ‘happily ever after’-nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Inspiration for the Lovers

anda adalah katalisator terhebat untuk mengubah saya menjadi lebih baik ^^
*arifatih*

aku memang manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku hanya satu cinta untukmu luar biasa
*yovie & nuno*

Inspirasi Hidup

with great power comes great responsibilities

*spiderman*