menikah?

topik yang ga pernah habis buat dibahas untuk kaum hawa berumur 18 tahun ke atas dan single, adalah menikah. yipp…kalau dipikir-pikir sih, mungkin itu termasuk salah satu sindrom yang menyerang hampir semua wanita remaja akhir. saya suka menyebutnya dengan istilah puber akhir, soalnya terjadi di akhir-akhir puber remaja. dimana mereka sudah mengalami kematangan biologis, dan secara psikologis menginginkan ‘teman’ dalam berbagai suka duka. yeah…mungkin peran seorang sahabat bisa menempatinya, tapi saya tekankan, bukan hanya sekedar temen buat punching, running, ato hang out gitu…lebih ke teman secara psikologis, berbagi suka duka, sharing masa depan, dan saling ‘bermesraan’.

jadi inget princess hours🙂, cute....

beberapa faktor berikut adalah pengaruhnya (menurut saya):

pertama, kematangan biologis. nurut saya (lagi-lagi, belum ada data pasti), kematangan biologis akan membuat insting seseorang untuk ‘berdekatan’ dengan lawan jenis juga semakin besar. istilah kasarnya si ‘insting kawin’.

kedua, pengaruh lingkungan. sekarang mah udah jaman, cewek nikah usia 18 tahunan. nikah muda, meski dari segi lahiriahnya belum siap (finansial, dsb). dan mereka melihat nikah itu nyenengin, jadi pengen juga. kasus ini kadang bereakhir dengan ‘sedikit’ penyesalan, misalnya finansial kurang (artinya bikin banyak masalah), belum siap punya baby (kasian baby-nya tuh), pasangan masih sama2 muda jadi sering konflik, dsb.

ketiga, menghindari pacaran. daripada pacaran, orang sekarang lebih milih langsung nikah.

honestly, saya pernah mengalami sindrom itu. dulu, saya adalah tipe cewek yang berpkir, ‘ih waw, nikah muda? ga deh, makasih’ *dengannadagabanget*. tapi, ketika saya terjun ke dunia kerja, terus kuliah, dorongan dan insting itu pun muncul. saya mulai dekat dengan beberapa lawan jenis. dunia yang (serously) ga pernah saya jamah. tapi then, karena beberapa hal, it didn’t work. dan sekarang, saya lebih banyak berorientasi pada masa depan saya tanpa mikirin yang namanya nikah. yaa…mungkin, ada juga rasa iri ketika salah satu temen sd, atau smp, atau maen, gitu nikah, dapet suami kaya, jabata tinggi, de es be gitu deh. tapi, ketika berkaca pada diri saya sendiri, saya menyadari beberapa fakta sederhana ini:

pertama, secara lahiriah, saya belum siap. tidak siap finansialnya. padahal, finansial itu penting. bukan yang terpenting sih, tapi penting. dan masalah finansial bisa memicu masalah lain dalam sebuah rumah tangga. daripada mengorbankan puluhan tahun ke depan, mending ga usah nyoba2 dulu dah.

kedua, secara psikologis, ternyata saya sadari bahwa saya belum siap. membangun rumah tangga itu bukan perkara mudah, yang kalau rusak bisa diperbaiki dengan mudah. yang kalo game over ya udah dimulai lagi. no!!! absolutaley no!!! saya orang perfeksionis dan menyukai detail. saya masih belum ngerti, gimana menghadapi mertua, berapa takaran nasi untuk satu keluarga, cara masang kompor ga gimana, masang dasi itu gimana, dan hal detail lainnya yang sepele tapi penting. wanita yang udah nikah berarti udah DEWASA. matang dan bisa diandalkan. saya ngrasa saya masih anak2, belum dewasa, dan takut. daripada mengambil risiko itu, mending tahan dulu deh.

ketiga, sama sekali belum siap punya baby. meski pengeeeen banget! ada ga sih yang mau ngasih aku baby? hahaha *ngaco*

keempat, masih pengen memanfaatkan waktu. ini alasan yang beberapa waktu ini mengisi kepala saya. saya itu suka banget touring. kalau touring sama temen, pasti selalu inget ‘wah, pengen pergi bareng mas ini, mas itu’. tapi, pernah mikir ga sih, besok ketika udah nikah ‘wah, pengen pergi bareng temen’. dan, itu ga bisa kesampaian lagi gara2 udah nikah dan ada peraturan2 tertentu (yeahh, inget siapa bosnya kan?). saya ga suka perasaan nyesel. daripada ntar nyesel di belakang karena ‘ga memanfaatkan waktu dalam kesinglean ini’, mending seneng2 sekarang, kalau udah bosan, nikah deh (bukan sekedar pelampiasan lho ya). ya tentu saja isinya ga seneng2 mulu juga, misalnya aja kuliah, menghabiskan waktu bareng keluarga, temen, orang lain, melakukan hobi, kerja, kalau saya sih ya pengen touring dulu, nulis, keliling dunia, hahaha…. (ngimpi)

kelima, usia ideal nikah seorang cewek itu 23-26, bagi saya.

keenam, alasan paling penting dan paling utama: statusnya masih MENUNGGU (hahahaha). mungkin sih, kalau ada yang ngajakin saya (dengan kualifikasi tertentu, tentu saja, hihi), ya saya mungkin bisa mempertimbangkannya dan menghapus kelima poin di atas. jadi intinya ya di poin terakhir ini toh ya😀

well, yang jelas, menikah adalah pilihan yang tidak mudah, harus diambil dengan pertimbangan yang dewasa dan matang, dari dua belah pihak. kesiapan dari segi lahir dan batin sangat penting, jadi bisa bener-bener menjadi keluarga sakinah mawadah, warahmah. dan terakhir, cinta itu penting, jadi menikahlah dengan orang yang mencintai anda, hehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Inspiration for the Lovers

anda adalah katalisator terhebat untuk mengubah saya menjadi lebih baik ^^
*arifatih*

aku memang manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku hanya satu cinta untukmu luar biasa
*yovie & nuno*

Inspirasi Hidup

with great power comes great responsibilities

*spiderman*