Tips Ujian Skripsi Pendadaran atau Munakosah

Sindrom yang terjadi ketika ujian adalah takut.

Terutama takut kalau tidak lulus (dan takut dosen)

Dan saya mengalami sindrom itu (justru) 1 bulan sebelum ujian.

Jadi ceritanya begini. Saya kan sudah ngurus ujian sejak akhir april, ealah dapet tempat ujiannya minggu terakhir mei. Ya sudahlah, akhirnya pasrah. Nah, selama minggu-minggu pertama saya sempat mimpi buruk, galau geje, dan panic geje. Tapi setelah agak lama, saya pun agak tenang. Mungkin karena pikiran saya focus pada naskah (waktu itu), jadi saya tidak memikirkan sama sekali tentang skripsi.

H-3 sebelum ujian, kerjaan saya singkirkan dan saya focus pada ujian. Jadi selama 2 hari saya Cuma nguplek-uplek skripsi saja. Mulai dari baca, nyari literature pendukung buat kata-kata sukar, nyiapin jawaban, dsb.

Berdasarkan latihan yang saya lakukan, dan ujian yang (Alhamdulillah) berjalan lancar, serta hasil sharing dari teman-teman, saya pun menyimpulkan ada beberapa hal yang ditanyakan dalam ujian, yaitu:

Pertama, judul. Pasti dengan pertanyaan, ‘engapa kamu mengambil judul ini, mengapa mengambil variable ini, mengapa mengambil kelas ini, mengapa mengambil mata pelajaran ini, mengapa mengambil tempat ini.

Kedua, metodologi. Kalau dapet dosen metodologi, pasti dibantai pas bab 3, mulai dari jenis penelitian, sampel, populasi, analisis data, dsb.

Ketiga, teori. Terutama kalau dapet dosen yang ahli materi.

Keempat, konsep dasar. Ini yang paling sering ‘kecolongan’ saat ujian. Misalnya si mahasiswa punya konsep kayak gini, tapi si dosen kayak gitu, dan nggak mau kalah. Akhirnya mahasiswa harus manut dosen dan mengganti konsep. Padahal konsep itu kan urgen di awal. Artinya, mengganti seluruh konsep penelitiannya juga. (ada beberapa kasus kayak gini).

Kelima, tata tulis. Pasti, entah itu salah tanda baca, pemakaian huruf capital, membuat kutipan, awalan, dsb. kalau semua materi oke, bisa jawab, meski kesalahan paling banyak di tata tulis.

Keenam, hal nggak penting. Missal, jelaskan makna motto kamu, siapa nama-nama yang kamu tulis di kata pengantar, apa arti nama kamu, dsb.

Ketujuh, hasil penelitian. Agak jarang ditanyain, terutama kalau kuantitatif.

Kedelapan, daftar pustaka. Siap-siap aja semua buku dibawa (kayak saya kemaren, hahaha)

Sepemahaman saya, itu sih yang ditanyain pas ujian.

Tapi, pertanyaan dalam ujian pun ada dua macam. Itu saya amati dari dua dosen penguji yang kemaren nguji saya.

Pertama, tipe konfirmasi. Yaitu dosen Cuma mengkonfirmasi dan klarifikasi apa yang ditulis. Jadi, apa maksud tulisan ini dan itu, sekalian membenarkan. Hanya ada sedikit unsure tes di sana. Penguji kayak gini enak, karena hanya bertanya, ‘menurut anda’.

Kedua, tipe menguji. Yaitu dosen yang benar-benar bertanya konsep-konsep yang kalau salah berarti salah fatal. Tipe pertanyaannya adalah, ‘apa maksud…’, sebutkan…, dsb.

Cukup sekian dulu ya, sharing saya. bagi anda yang mau ujian, goodluck buat ujian. Saran saya sih, banyak berdoa, sodaqoh, dan menjauhi maksiat. Tapi jangan lupa juga tetap belajar, latihan, persiapan fisik, mental, dsb. Ingat, dosen juga manusia, jadi jangan merasa takut. Bangun kepercayaan diri anda dan lakukan yang terbaik.

Good luck!

2 Comments (+add yours?)

  1. acho
    Feb 16, 2013 @ 20:37:41

    trimakasih tuk infonya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Inspiration for the Lovers

anda adalah katalisator terhebat untuk mengubah saya menjadi lebih baik ^^
*arifatih*

aku memang manusia biasa yang tak sempurna dan kadang salah
namun di hatiku hanya satu cinta untukmu luar biasa
*yovie & nuno*

Inspirasi Hidup

with great power comes great responsibilities

*spiderman*